Rabu, 23 September 2009

Organisasi itu Penting

HARI Kebangkitan Nasional yang di peringati tiap tahun, yang biasanya bertepatan pada tanggal 20 Mei. Karena itu, peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini tentu mempunyai arti khusus. Kebangkitan Nasional dimulai sejak Budi Utomo berdiri tanggal 20 Mei 1908. Sejak itu perjuangan pergerakan di negeri kita memasuki babak baru. Dikatakan sebagai babak baru, karena sejak itu perjuangan mulai menggunakan cara-cara organisasi modern. Perjuangan itu tentu merupakan kelanjutan dari perjuangan sebelumnya yang gagah berani, tapi belum berhasil, karena perjuangan masih bersifat kedaerahan.


Setelah Budi Utomo berdiri, KH. Ahmad Dahlan sering mengadakan kontak dan komunikasi dengan para tokohnya. Bahkan pernah bersilaturrahim ke rumah dr. Wahidin Sudirohusoso di Ketandan, Yogyakarta. Ia menanyakan berbagai hal tentang Budi Utomo dan tujuannya. Setelah mendengar jawaban yang memuaskan, ia menyatakan ingin menjadi anggota. Pengurus Budi Utomo kompak menyambut dan menerimanya. Malah ia diminta menjadi anggota pengurus Budi Utomo. Ia masuk Budi Utomo selain untuk memperluas pergaulan dan wawasan, juga mendapatkan manfaat dapat belajar berorganisasi dan dapat berdakwah kepada mereka. Dan perkenalannya dengan para tokoh Budi Utomo termasuk dengan Kepala Sekolah Kweekschool mengantarkannya dapat memberi pendidikan Agama Islam kepada para siswa Kweekschool.


KH. Ahmad Dahlan memelopori perjuangan menegakkan agama Islam di Indonesia dengan menggunakan organisasi sebagai alat, sarana, dan wadah perjuangan. Ia sadar bahwa perjuangan untuk mencapai cita-cita yang tinggi lagi mulia hanyalah akan efektif dan efisien apabila menggunakan alat, sarana, dan wadah perjuangan yang disebut organisasi. Ia sadar bahwa usaha perbaikan masyarakat tidak mudah jika dilakukan sendirian. Jadi, harus dilakukan dengan cara berorganisasi, membuka kerjasama dengan banyak orang. Empat tahun kemudian setelah Budi Utomo lahir, ia mendirikan organisasi atau persyarikatan yang diberi nama Muhammadiyah, tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H bertepatan tanggal 18 November 1912 M di Yogyakarta. Dengan nama itu, ia berharap agar siapa pun yang berada dalam Muhammadiyah menjadi pengikut baik Rasulullah Muhammad saw dan dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam sesuai dengan yang dituntunkan oleh beliau. Sebab beliau merupakan uswah hasanah bagi semua.


Ki Bagus Hadikusumo, salah seorang santri KH. Ahmad Dahlan, adalah penyusun Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM). MADM merupakan hasil refleksi, hasil dari penyorotan dan pengungkapan kembali terhadap pokok-pokok pikiran, ide, gagasan KH Ahmad Dahlan dalam menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam. MADM hakikatnya menggambarkan falsafah hidup dan falsafah perjuangan KH. Ahmad Dahlan yang di dalamnya menegaskan tentang dasar dan keyakinan hidup, tujuan dan cita-cita hidup, serta cara yang digunakan untuk mencapai tujuan hidup. Dalam MADM antara lain disebutkan bahwa perjuangan menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam hanyalah akan berhasil bila ittiba’ atau mengikuti jejak perjuangan para Nabi, terutama perjuangan Nabi Muhammad saw. (pokok pikiran ke-5).

Sedangkan pada pokok pikiran ke-6 ditegaskan, “Perjuangan mewujudkan pokok-pokok pikiran tersebut hanya dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan akan berhasil bila dengan cara berorganisasi”.
Mengapa organisasi penting? Karena dalam organisasi ada sekelompok orang yang bekerjasama, di dalamnya ada yang memimpin dan ada pula yang dipimpin, satu dengan yang lain saling berhubungan di samping ada pembagian kerja, ada keterikatan terhadap aturan dan tata tertib yang harus ditaati, kemudian berusaha bersama-sama dengan kesadaran dan bertanggungjawab untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama. Tidak demikian halnya jika tanpa organisasi. Tentu masing-masing jalan sendiri, tidak ada kerapian, ketertiban, dan keteraturan. Karena itu tidak ada yang tidak memerlukan organisasi. Organisasi diperlukan bagi kelompok orang yang berkehendak baik, juga bagi mereka yang berkehendak buruk. Dengan organisasi kehendak yang baik atau yang buruk akan mudah tercapai. Ada kaitan dengan pentingnya organisasi, Ali bin Abi Thalib pernah menegaskan, “Al-Haqqu bilaa nizhaam yaghlibuhul baathilu bi nizhaam” – “Kebenaran yang tidak terorganisasi akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi secara rapi”. Kata mutiara atau mutiara hikmah itu pantas kita renungkan.

Muhammadiyah adalah wadah bagi kelompok umat yang mendapat amanah Allah untuk senantiasa berdakwah dan beramar ma’ruf nahi munkar, menebarkan dan mempertahankan kebaikan, kedamaian, dan kebenaran dalam kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Semua itu dilakukan untuk membawa dan menjadi rahmatan lil ‘alamin. Agar sampai pada apa yang dimaksudkan maka kebenaran itu harus diamalkan dan diperjuangkan dalam tatanan yang rapi dan teratur, dengan perencanaan yang matang, dengan tahapan-tahapan pelaksanaan dan skala prioritas yang jelas, pimpinan yang amanah dan didukung oleh SDM berkualitas, serta pengorganisasian yang kuat.
Sekarang sedang terjadi perseteruan yang kuat antara kebenaran dan kebatilan. Muhammadiyah tentu tidak boleh tinggal diam.

Konsolidasi mutlak harus dilakukan agar Muhammadiyah sebagai organisasi tetap solid, baik ke dalam maupun ke luar. Sehingga Muhammadiyah tetap tegar tidak mudah goyah dan panik ketika berhadapan dengan berbagai kesulitan dan kesukaran. Di samping mampu berdiri tegak ketika berhadapan dengan pihak lain, juga memiliki kepercayaan diri dan harga diri sehingga tidak mudah diintervensi, dikendalikan, dan diobok-obok pihak lain. Tampilan Muhammadiyah sebagai organisasi tetap memiliki kewibawaan, disegani, dan dihormati.

Muhammadiyah sebagai organisasi memang bukan tujuan, tapi merupakan alat, sarana, dan wadah perjuangan yang sangat penting dan kita perlukan.

Pernah dimuat di Majalah Suara Muhammadiyah

Tidak ada komentar: