Kamis, 24 September 2009

Franz Magnis Suseno: Mahasiswa Harus Tetap Kritis


[JAKARTA] Peran mahasiswa dalam perjalanan bangsa Indonesia sangat besar dan penting, namun sebagian besar mahasiswa masih berpikiran sempit. Karena itu, mahasiswa harus mengubah mindset (pemikirannya) yang sempit menjadi terbuka, kritis, dan memiliki empati terhadap masalah-masalah bangsa, jika tidak, bangsa Indonesia akan terus terpuruk.
"Peran mahasiswa sangat penting dalam era reformasi. Karena itu, mahasiswa harus mendorong diri mereka untuk tetap berpikir kritis, terbuka, dan menghargai pluralisme. Dengan demikian, mahasiswa mampu menjadi penjaga perjalanan bangsa Indonesia," kata Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Franz Magnis Suseno, ketika berbincang dengan Pembaruan, di sela-sela Dialog Kebangsaan I bertema "Membangun Kepemimpinan Nasional Berbasis Moral, Teknologi, dan Demokrasi, di Jakarta, Senin (2/4). Acara yang digagas Depdiknas itu, dihadiri perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi (PT) di Indonesia.
Franz Magnis mengemukakan, salah satu penyebab keterpurukan bangsa Indonesia adalah belum adanya pemimpin yang mumpuni. "Mungkin bangsa ini tengah mengalami demoralisasi. Karena itu, mahasiswa harus meningkatkan kualitas mereka sehingga mampu ikut andil dalam perjalanan bangsa ini," kata dia.
Dia mengatakan, Indonesia mempunyai masalah kepemimpinan yang serius. "Kita bisa lihat dalam masyarakat hampir tidak ada kepercayaan lagi dalam terhadap segala macam pemimpin," ujar Magnis yang juga Romo dan budayawan itu.
Franz Magnis melanjutkan, pengaruh korosif korupsi moral terasa dalam rendahnya kadar kepemimpinan di semua level kehidupan bangsa. Padahal, tanpa kepemimpinan yang andal negara ini tidak akan pernah keluar dari kemelut.
Karena itu, kata Franz Magnis, mahasiswa dituntut mengembangkan sikap dan kemampuan agar mampu memberikan teladan bagi bangsa ini. "Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung dari apakah bangsa ini berhasil membangun kehidupan yang demokratis, pluralistik, dan benar-benar mewujudkan solidaritas sosial. Di sinilah peran dan tugas mahasiswa sangat besar untuk ikut mewujudkan Indonesia yang lebih baik," katanya.
Sementara itu, Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdiknas Satryo Soemantri Brodjonegoro mengatakan, pemerintah telah mendorong PT untuk mengembangkan dirinya, sehingga mencapai peringkat yang terpandang di dunia internasional. Karena sampai kini sebagian besar kualitas PT masih sangat jauh dari apa yang diharapkan.
Karena itu, lanjut Satryo, PT memang dituntut mengembangkan dirinya untuk bisa bersaing di dunia internasional.
"Jika dalam perkembangannya, ada PT yang tidak mampu bersaing dan mengeluarkan lulusan yang bermutu, ya lebih baik tidak usah mengeluh atau mungkin ditutup saja. Mengapa? Karena PT bertanggung jawab secara moral kepada masyarakat dan bangsa ini," kata dia.
Kemandirian
Dikatakan, dalam lingkungan PT ada mahasiswa. Mahasiswa adalah generasi penerus yang akan berperan sebagai calon pemimpin bangsa. Diperlukan suatu sikap kemandirian, mampu mengembangkan diri sendiri, dan mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat.
"Mahasiswa mempunyai kepekaan dan antusiasme tinggi sebagai modal yang sangat baik untuk menampilkan mental kemandirian," ujarnya.
Dikatakan, Indonesia adalah negara dengan dimensi yang sangat kompleks. Karena itu, kontribusi mahasiswa sangat besar sebagai calon pemimpin masa depan untuk bersama-sama mencari solusi berbagai problematika bangsa. "Tanggung jawab kita adalah menyelesaikan masalah-masalah tersebut dalam lingkup masing-masing sesuai dengan bidang yang ditekuninya," jelas Satryo.
Satryo menerangkan, visi pendidikan nasional diemban oleh Depdiknas. Karena itu, pemerintah mendorong PT untuk mampu mandiri. "Kata kunci kemandirian bangsa baik di kalangan pengelola perguruan tingginya dengan otonomi kampus, kemandirian dosen-dosennya, maupun mahasiswanya yang di antara mereka akan menggantikan posisi-posisi pemimpin Indonesia masa depan," katanya.
Karena itu, katanya, mahasiswa harus berjuang keras untuk maju dan memiliki visi untuk maju itu sendiri di kalangan mereka. Sikap mandiri itu juga akan menjadi landasan untuk menyelesaikan persoalan bangsa ini.
Menurut Satryo, dialog kebangsaan ini dirancang sebagai media pertukaran ide, pengetahuan, informasi dan pengembangan jaringan bagi generasi muda. Akan terjadi suatu proses penyebarluasan hasil dialog di lingkungan tempat mahasiswa berasal. "Semoga dialog ini dapat diteruskan dalam komitmen dan tindakan nyata sesuai bidangnya masing-masing demi perubahan yang lebih baik untuk kepentingan masyarakat," harap Satryo. [W-12]

Tidak ada komentar: