Tampilkan postingan dengan label Kabar Muhammadiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabar Muhammadiyah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Maret 2010

MUI Dukung Fatwa yang Haramkan Rokok

Berdasarkan info yang ada di http://www.republika.co.id/berita/106376/mui-dukung-fatwa-yang-haramkan-rokok Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan dukungannya atas fatwa Majlis Tarjih Pengurus Pusat Muhammadiyah yang mengharamkan rokok. Fatwa tersebut dinilai memiliki argumentasi dan dalil kuat sehingga perlu didukung.

"Bagi yang sependapat, fatwa tersebut sepatutnya diikuti dan disebarluaskan,’’ kata Sekretaris Umum Pengurus Harian MUI, H Ichwan Syam, di Australia melalui layanan pesan singkat (SMS) kepada //Republika//, Kamis, (11/3).

Menurut Ichwan, kuatnya dalil fatwa PP Muhammadiyah itu terlihat jelas dari sejumlah pertimbangan utama. Rokok diharamkan karena diyakini membawa keburukan bagi pengisap dan yang ada di sekitarnya.

Selain itu, merokok juga dinilai sebagai aktivitas berlebihanan yang tidak mendatangkan manfaat (mubazir). "Argumentasi dan dalil-dalinya kuat, terutama pertimbangan mafsadah atau mudaratya dan tabdzirnya,’’ ujarnya.

Ichwan menyebutkan, MUI juga telah menerbitkan fatwa haram dan makruh rokok tahun lalu. Hal itu merupakan hasil kesepakatan ulama di Padang Panjang. Ketentuan haramnya rokok berlaku bagi anak-anak, remaja, dan wanita hamil karena dinilai membahayakan kesehatan. Merokok di tempat umum juga diharamkan.

Sementara, menurut Ichwan, makruhnya merokok dikarenakan cukup banyak masyarakat Indonesia yang memperoleh manfaat. Hal itu terutama bagi petani tembakau dan pedagang kecil. ‘’Tentu, kondisi makruh ini sifatnya darurat,’’ katanya.

Selasa, (9/3) lalu, Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan fatwa haram merokok. Hal itu karena Muhammadiyah menilai rokok menimbulkan banyak dampak negatif bagi manusia. Dampak itu mencakup di bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi.

by: Heru Cahyono

Share/Bookmark

Selasa, 09 Maret 2010

Fatwa PP Muhammadiyah: Merokok Haram!


Pimpinan Pusat Muhammadiyah, melalui Majlis Tarjih dan Tajdid, mengeluarkan fatwa baru terhadap hukum merokok. Setelah menelaah manfaat dan mudarat rokok, Majlis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah berkesimpulan bahwa merokok secara syariah Islam masuk dalam kategori haram. Keputusan ini diambil dalam halaqoh tentang Pengendalian Dampak Tembakau yang diselenggarakan Majlis Tarjih dan Tajdid pada 7 Maret lalu di Yogyakarta.
Dengan dikeluarkannya fatwa ini, maka fatwa tahun 2005 yang menyatakan merokok mubah dinyatakan tidak berlaku lagi.

”Fatwa ini diambil setelah mendengarkan masukan dari berbagai pihak tentang bahaya rokok bagi kesehatan dan ekonomi. Di samping itu, kami juga melakukan tinjauan hukum merokok. Berdasarkan masukan dari halaqoh itu, kemudian dirapatkan oleh Majlis Tarjih dan Tajdid dan mengeluarkan amar keputusan bahwa merokok adalah haram hukumnya,” kata Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih Dr Yunahar Ilyas dalam jumpa pers di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Selasa (9/3/2010).

Fatwa baru ini sekaligus merevisi fatwa sebelumnya yang menyatakan bahwa hukum rokok mubah. ”Fatwa bahwa merokok mubah selama ini terjadi karena berbagai dampak negatif merokok bagi kesehatan, sosial, dan ekonomi, semakin dirasakan oleh masyarakat,” ungkap Yunahar.

Fatwa bahwa merokok mubah masih dipertahankan oleh PP Muhammadiyah hingga 2007. Artinya, boleh dikerjakan, tetapi lebih baik jika ditinggalkan. Perubahan fatwa menjadi haram dinilai sebagai keputusan yang akan membawa manfaat. Mengingat, banyaknya efek negatif akibat terpapar asap rokok.

Melalui fatwa ini, Yunahar mengatakan, PP Muhammadiyah ingin mengingatkan seluruh lapisan masyarakat akan bahaya mengisap lintingan tembakau ini. ”Karena dampak negatifnya, maka pembelanjaan uang untuk merokok adalah perbuatan mubazir,” ujarnya.

Dalam salah satu amar keputusannya, diimbau kepada yang belum merokok, wajib menghindarkan diri dari merokok. Bagi yang sudah merokok, wajib berupaya untuk menghentikan dari kebiasaan merokok. ”Dengan dikeluarkannya fatwa ini, maka fatwa tahun 2005 yang menyatakan merokok mubah dinyatakan tidak berlaku lagi,” kata Yunahar lagi.

Pelaksanaan Fatwa Haram Merokok yang dikeluarkan Majlis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah ini akan dibawa dan dikukuhkan dalam Rapat Pleno PP Muhammadiyah dan ditindaklanjuti dengan surat keputusan resmi. Dijelaskan Yunahar, surat keputusan tersebut berisi instruksi mengikat kepada seluruh jajaran organisasi, lembaga-lembaga amal usaha, seperti sekolah, universitas, rumah sakit, masjid, dan berbagai fasilitas Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2010/03/09/10123349/Fatwa.PP.Muhammadiyah.Merokok.Haram
Share/Bookmark

Selasa, 09 Februari 2010

PDM Klaten Menjadi Penggerak, Pelopor dan Pembangkit di Sektor Pemerintahan

Klaten, Jawa Tengah, Dalam rangka memperingati Milad Muhammadiyah 1 Abad dan menghadapi Mukatamar Muhammadiyah ke-46, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupatern Klaten mengadakan Dialog Muhammadiyah dengan Tema: “Membangun(kan) Klaten, kemarin Sabtu 30 Januari 2010 bertemapt di Gedung Dakwah Muhammadiyah Kabupaten Klaten.
Acara ini juga dihadiri oleh Bp Sunarna, SE, MM selaku Bupati Kepala Daerah Tingkat II Klaten dan memberikan sambutan dipembukaan acara. Peran Muhammadiyah dari Bidang Pendidikan dan Kesehatan sangat membantu pemerintah Kabupaten Klaten, karena semakin mudahnya fasilitas kesehatan dan pendidikan yang dapat di manfaatkan masyarakat setempat. Banyak sekali amal usaha Muhamamdiyah yang menyebar di pelosok Desa yang ada di Klaten, maka dari itu kami dari pemerintah mengucapkan banyak terimakasih kepada Pimpinan Daerah Muhamamdiyah Kabupaten Klaten dengan adanya kerja keras Muhammadiyah untuk membantu memajukan Klaten lewat amal usaha Muhammadiyah di Bidang Pendidikan dan Kesehatan, kata Bp Sunarna saat memberikan sambutan.
Pembicara yang dihadirkan dalam dialog ini adalah Prof. Dr. dr. H.M. Syamsulhadi, Sp. Kj (K), Ir. H. Tugiman Hadibroto, Prof. Dr. H. Musa Asy’ari, yang dihadiri 400 lebih peserta dialog yang datang di Gedung Dakwah Muhammadiyah Kabupaten Klaten dari Pimpinan Ranting, Cabang Muhammadiyah se-Kabupaten Klaten, Ortom Muhammadiyah dan Undangan Umum.
Dengan adanya diaolog ini diharapkan Muhammadiyah bangun dan bangkit menjadi penggerak pembangunan di klaten, melalui sektor pendidikan misalnya menjadikan 3 PTM jadi UMK, peningkatan kualitas Lembaga Pendidikan Muhamamdiyah,juga melalui sektor ekonomi dengan pemberdayaan BMT BMT sebagai penggerak pemberdayaan generasi muda untuk tumbuh berwirausaha mandiri sehingga muhammadiyah banyak memiliki para saudagar.
Heru Cahyono, Contributor Website IPM dan Muhammadiyah Jawa Tengah

Jumat, 20 November 2009

Said Tuhuleley: ”Kehendak Rakyat Seperti Air Bah”

Yogyakarta- Ketika negara bermasalah dan fungsi parlemen tidak berjalan, maka gerakan oposisi jalanan akan berbicara, karena kehendak rakyat seperti air bah yang tidak dapat dibendung.

Demikian disampaikan ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Said Tuhuleley, dalam pengantar diskusi Oposisi & Masa Depan Demokrasi di Indonesia, di gedung PP Muhammadiyah, jln. Cik Di Tiro, Kamis (12/11/2009). Menurut Said, air bah yang beresiko destruktif, memerlukan kanal-kanal untuk dapat menyalur secara smooth dan tidak merusak, walaupun kanal-kanal rakyat ini sudah mulai tertutup. “Tertutupnya kanal-kanal rakyat, menyebabkan munculnya kanal-kanal baru seperti parlemen online, walaupun yang lebih berbahaya lagi adalah parlemen offline,” ungkap Said.

Dalam diskusi publik yang dilaksanakan oleh MPM PP Muhammadiyah, tampil sebagai pembicara, Piet Hizbullah Khaidir mantan ketua DPP IMM (Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), Cornelis Lay pakar politik UGM, dan Tamrin Amal Tomagola sosiolog UI.

IPM Sulsel Ciptakan Generasi Jurnalis Advokatif

Gowa, Sulawesi Selatan - Media Massa saat ini mendominasi perkembangan telekomunikasi dan Informasi di dunia dengan mempermudah komunikasi antara satu manusia dengan manusia yang lain bahkan memberikan informasi ke seluruh penjuru dunia dengan sangat mudah bagi masyarakat yang membutuhkannya. Oleh karena itu Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Sulawesi Selatan ikut berperan aktif dalam mempersiapkan generasi unggul dan cerdas khususnya dikalangan pelajar.

“IPM sebagai organisasi Intelektual dikalangan pelajar harus dapat menciptakan wartawan yang berwawasan advokatif untuk dapat melakukan pendampingan dan pembelaan terhadap pelajar yang terdiskriminasikan”, ungkap Fanny Dirgantara, Sekretaris Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) dalam penutupan Pelatihan Jurnalistik Pelajar dan Advokasi Dini (8/ 11/ 2009) yang dilaksanakan oleh PW IPM Sulawesi Selatan pada tanggal 5 – 8 Nopember 2009.

Pada saat ini sedikit sekali media yang membela dan mendampingi pelajar yang menjadi korban kekerasan dan terdiskriminasikan oleh kebijakan sekolah sehingga banyak kasus pelajar di sekolah sangat jarang di publikasikan oleh media massa khususnya di Sulawesi Selatan. Ini merupakan PR (Pekerjaan Rumah) bagi IPM Sulawesi Selatan, lanjut Sekretaris Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah tersebut.

IPM seharusnya tidak hanya melindungi pelajar yang terdiskriminasi dan terlibat kasus kekerasan tetapi juga harus bisa mengkritisi akar masalanya yang bersumber pada kebijakan di bidang Pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan yang tidak berpihak pada Pelajar, harapan kami setelah usai pelatihan Jurnalistik Pelajar dan Advokasi Pelajar Dini peserta yang terdiri dari Pelajar Se-Sulawesi Selatan yang berjumlah 85 peserta dapat mengembangkan pengetahuan yang telah diperoleh dari pelatihan ini, agar dapat terciptanya pelajar – pelajar jurnalistik yang berwawasan advokatif yang dapat melindungi pelajar pada 5 – 10 tahun mendatang di Sulawesi Selatan, sahut Zulfikar Ahmad Tawalla, Ketua Umum PW IPM Sulawesi Selatan dalam penutupan Pelatihan Jurnalistik Pelajar dan Advokasi Dini tersebut.(Heru Cahyono, Sekretaris Umum PD IPM Klaten)

FK UMS Gelar Seminar Rhinitis Alergi dan Asma

Solo - Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bekerjasama dengan RSUD Karanganyar menggelar Seminar Nasional bertemakan Up-date Manajemen Komprehensif Rhinitis Alergi dan Asma pada Senin (9/11) di Hotel Novotel Solo. Dilanjutkan Workshop Pelatihan Bedah Sinus Endoskopi Fungsional pada Selasa (10/11) di RSUD Karanganyar.

Tampil sebagai pembicara pada Seminar tersebut, antara lain : Ahli Paru Prof. Dr. dr. H Suradi, Sp. P(K) MARS; Pengajar FK UMS Dr. H. Djoko Sindusakti, Sp. THT-KL (K), MBA, MARS, M.Si; Kepala Bagian THT RSUD Karanganyar Dr. H. Iwan Setiawan Adji, Sp.THT-KL; dan Ketua IDI Cab Solo Dr. Ganung Harsono, Sp. A (K).

“Hampir tiga perempat kasus rhinitis disertai asma, dan pada kasus rhinitis-asma yang muncul bersama, sering rhinitis tidak terobati karena perhatian penderita dan dokternya lebih focus ke penanganan asma, sehingga terapi menjadi tidak efektif,” jelas Dekan FK UMS dr. Bakri B Hasbullah, Sp.B, FINACS terkait latar belakang penyelenggaraan Seminar.

Tujuan diadakan Seminar dan Workshop, antara lain : meningkatkan kemampuan Tim Work Rhinitis-Asma, dan permasalahan dokter THT-KL daerah tereliminasi. (Heru Cahyono)

Senin, 02 November 2009

Terlibat Tim Sukses Calon Bupati, Ketua IPM Sulsel Didesak Mundur

MAKASSAR, TRIBUN - Beberapa Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Se-Sulsel dalam pertemuan di Warkop Cappo (Jl.Sulan Alauddin), Rabu (21/10), mengeluarkan pernyataan sikap bersama terkait dengan keterlibatan Dzulfikar, Ketua Umum IPM Sulsel sebagai tim sukses salah satu calon Bupati di Kabupaten Pangkep. Demikian rilis yang dikirim ke redaksi Tribun Timur, beberapa saat lalu.

"Pelanggaran konstitusi tidak bisa dibiarkan terus berlarut-larut. Keterlibatan Dzulfikar sebagai tim sukses calon Bupati merupakan pengkhianatan terhadap konstitusi IPM. IPM adalah gerakan pencerahan dan pencerdasan pelajar, kalau mau berpolitik praktis, bergabung saja dengan Partai Politik", tegas Hasanuddin, Ketua IPM Makassar. Hasan melanjutkan bahwa mereka kini telah menggalang aliansi IPM Daerah untuk melakukan mosi tidak percaya terhadap Dzulfikar.

"Sudah ada tujuh Pimpinan Daerah yang bergabung bersama kami, diantaranya IPM Makassar, Gowa, Takalar, Maros, Pangkep, Bantaeng dan Bulukumba. Kami yakin dukungan terhadap gerakan ini akan terus bergulir. Selanjutnya kami akan bersurat secara resmi ke Pimpinan Pusat IPM dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel" tambah calon Sarjana Teknik Universitas Negeri Makassar ini.

Sementara itu Haris, Sekum IPM Gowa menambahkan bahwa sejak kepemimpinan Dzulfikar, IPM telah terseret terlalu jauh kedalam aktivitas politik praktis. "Sebenarnya suara-suara kritis telah kami sampaikan berulangkali, namun Fikar tak pernah menggubrisnya. Malahan suara kami dibungkam melalui SK pembekuan Pimpinan Daerah IPM Gowa" papar Haris dengan geram.

Pernyataan diatas disimpulkan oleh Shadri, Sekum IPM Takalar. "Tuntutan kami sangat konkret, Dzulfikar mundur. Ia telah mencederai nilai dasar gerakan IPM. Kami lebih respek dengan sosok Ahmad Yani, ia lebih komit terhadap pengawalan proses kaderisasi," katanya.

Minggu, 04 Oktober 2009

Sejarah Singkat Pendirian Persyarikatan Muhammadiyah


Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian dikenal dengan KHA Dahlan .

Beliau adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist. Oleh karena itu beliau memberikan pengertian keagamaan dirumahnya ditengah kesibukannya sebagai Khatib dan para pedagang.

Mula-mula ajaran ini ditolak, namun berkat ketekunan dan kesabarannya, akhirnya mendapat sambutan dari keluarga dan teman dekatnya. Profesinya sebagai pedagang sangat mendukung ajakan beliau, sehingga dalam waktu singkat ajakannya menyebar ke luar kampung Kauman bahkan sampai ke luar daerah dan ke luar pulau Jawa. Untuk mengorganisir kegiatan tersebut maka didirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Dan kini Muhammadiyah telah ada diseluruh pelosok tanah air.

Disamping memberikan pelajaran/pengetahuannya kepada laki-laki, beliau juga memberi pelajaran kepada kaum Ibu muda dalam forum pengajian yang disebut "Sidratul Muntaha". Pada siang hari pelajaran untuk anak-anak laki-laki dan perempuan. Pada malam hari untuk anak-anak yang telah dewasa.

Disamping memberikan kegiatan kepada laki-laki, pengajian kepada ibu-ibu dan anak-anak, beliau juga mendirikan sekolah-sekolah. Tahun 1913 sampai tahun 1918 beliau telah mendirikan sekolah dasar sejumlah 5 buah, tahun 1919 mendirikan Hooge School Muhammadiyah ialah sekolah lanjutan. Tahun 1921 diganti namnaya menjadi Kweek School Muhammadiyah, tahun 1923, dipecah menjadi dua, laki-laki sendiri perempuan sendiri, dan akhirnya pada tahun 1930 namnaya dirubah menjadi Mu`allimin dan Mu`allimat.

Muhammadiyah mendirikan organisasi untuk kaum perempuan dengan Nama 'Aisyiyah yang disitulah Istri KH. A. Dahlan, Nyi Walidah Ahmad Dahlan berperan serta aktif dan sempat juga menjadi pemimpinnya.

KH A Dahlan memimpin Muhammadiyah dari tahun 1912 hingga tahun 1922 dimana saat itu masih menggunakan sistem permusyawaratan rapat tahunan. Pada rapat tahun ke 11, Pemimpin Muhammadiyah dipegang oleh KH Ibrahim yang kemudian memegang Muhammadiyah hingga tahun 1934.Rapat Tahunan itu sendiri kemudian berubah menjadi Konggres Tahunan pada tahun 1926 yang di kemudian hari berubah menjadi Muktamar tiga tahunan dan seperti saat ini Menjadi Muktamar 5 tahunan.

Rabu, 23 September 2009

Konferensi Islam di UK: Tawarkan Islam Sebagai Solusi

Konferensi Islam ke-3 telah digelar oleh Islamic Society, sebuah lembaga mahasiswa Muslim di University of Essex. Kali ini tema yang diusung adalah ”Islam Beyond the Veil”, menawarkan Islam sebagai solusi. Dua konferensi sebelumnya, pada 2008 bertema ”A Journey to Islamic Values” dan pada 2007 mengambil tema ”Islam as a Moderate Religion”.

Konferensi menampilkan lima pembicara, empat pembicara dari British Muslim dan seorang pembicara lain adalah ahli psikologi pendidikan dari Kerajaan Saudi Arabia. Sebuah pertanyaan dicari jawabannya dalam konferensi itu: apakah Islam betul-betul memberikan solusi untuk berbagai masalah dalam kehidupan masyarakat Barat sekarang ini. Disadari atau tidak, setiap Muslim baik secara individu maupun sebagai sebuah komunitas, adalah bagian dari kompleksitas dunia saat ini.

Untuk terlibat aktif menyelesaikan masalah dunia ini, bukan saatnya lagi untuk menerapkan strategi konfrontasi, membuat perbedaan yang tidak tersatukan antara Islam dan Barat yang tidak islami. Model Clash of Civilisation yang digunakan oleh mantan Presiden George W. Bush dan juga Osama Bin Laden adalah bukan cara yang tepat untuk menghadirkan kedamaian di bumi ini. Cara berpikir semacam ini hanya akan menciptakan kehancuran dan pertentangan yang tidak akan pernah terselesaikan dalam kehidupan manusia.

Komunitas Muslim di Indonesia yang mayoritas, mungkin perlu mengambil pelajaran dari komunitas-komunitas Muslim yang minoritas di Eropa. Muslim harus mampu menampilkan Islam sebagai nilai lebih dalam kehidupan pribadi dan masyarakatnya, baik itu ketika menjadi kelompok mayoritas maupun minoritas.

Ketua Islamic Society University of Essex Abdullah Al-sheddy mengatakan, konferensi dengan polemik yang disampaikan sejarahwan Bernard Lewis, yang menempatkan Islam bukan saja sebagai agama tapi juga sebagai way of life (pandangan hidup) berkembang dalam keseluruhan materi konferensi tahun ini yang dihadiri lebih dari 300 undangan yang separuhnya adalah warga Inggris.

British Muslim Abdul Raheem Green sebagai pembicara pertama berpendapat, pernyataan Islam sebagai solusi kehidupan manusia modern masih tampak sebagai slogan belaka. Dibutuhkan kerja keras dari kalangan muslim untuk mewujudkannya. Nilai solusi Islam juga harus lebih realistis pada beberapa masalah tertentu saja bukan untuk semua masalah, kata pria kelahiran Daar-es-Salaam Tanzania dari keluarga Agnostik-Katolik.

Menurut Abdul Green, menempatkan Islam sebagai satu-satunya solusi bagi semua masalah adalah sebuah kesalahan yang kelak bisa menjadi bomerang bagi masa depan Islam. Apabila Muslim menginginkan sikap toleran dari masyarakat Kristen-Katolik dan masyarakat pro-sekularisme di Inggris, maka Islam harus menunjukkan toleransinya kepada agama-agama yang lain.

Pembicara lain, Khola Hasan dan Dr. Yahya Al-Baheth, masing-masing membahas tentang pentingnya implementasi atau diakuinya Hukum Islam khususnya berkaitan dengan perkawinan dan warisan di Inggris dan peran penting keluarga dalam menciptakan generasi Muslim yang kuat.

Khola, penyandang master dalam bidang Perbandingan Hukum Internasional dari SOAS (School of Oriental and African Studies), mengingatkan perempuan Muslim adalah kelompok yang rentan menjadi korban tidak diakuinya Hukum Islam dalam sistem hukum di Inggris. Banyak perempuan yang pernikahannya tidak terdaftar di Civil Magistrate dan tidak mendapatkan bagian pensiun dari suaminya yang meninggal atau tidak bisa menuntut cerai karena suaminya melakukan tindak kekerasan, kata Khola Hasan.[]

Amika Wardana, Ketua MPK PWM DIY, dosen Universitas Negeri Yogyakarta. Sekretaris Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Inggris Raya. Master di bidang Sosiologi dari University of Nottingham graduate 2007. Saat ini sedang mengambil studi program Doktor Sosiologi di University of Essex, UK, mendalami tentang interaksi antar komunitas Muslim di Inggris Raya khususnya antara yang berasal dari Indonesia, Pakistan dan Arabia.

Benteng Tauhid


Suatu yang patut kita syukuri di Muhammadiyah adalah semakin bertambahnya amal usaha yang didirikan oleh Persyarikatan Muhammadiyah. Dalam upaya ikut mencerdaskan masyarakat lewat lembaga pendidikan dan usaha menyehatkan masyarakat dengan pelayanan kesehatan oleh rumah sakit atau poliklinik, Muhammadiyah makin mendapat sambutan masyarakat dan makin maju. Ini diakui oleh banyak pihak, dan data-data berkembangnya amal usaha pendidikan dan kesehatan dapat dilihat di PP Muhammadyah.

Suatu yang patut kita syukuri di Muhammadiyah adalah semakin bertambahnya amal usaha yang didirikan oleh Persyarikatan Muhammadiyah. Dalam upaya ikut mencerdaskan masyarakat lewat lembaga pendidikan dan usaha menyehatkan masyarakat dengan pelayanan kesehatan oleh rumah sakit atau poliklinik, Muhammadiyah makin mendapat sambutan masyarakat dan makin maju. Ini diakui oleh banyak pihak, dan data-data berkembangnya amal usaha pendidikan dan kesehatan dapat dilihat di PP Muhammadyah.

Wujud rasa syukur ini dapat terimplementasikan dengan cara fahaddits, atau menyatakan syukur dengan memberitakan sebagai syiar kepada orang lain. Dengan demikian orang yang mendengar kemajuan amal usaha pendidikan dan kesehatan itu dapat terinspirasi, dapat memanfaatkannya serta dapat merasakan faedahnya. Dan wujud syukur itu, dapat juga berarti dilakukan dengan melakukan usaha peningkatan kualitas dan kuantitas amal usaha dengan peningkatan kerja keras yang maksimal. Perimbangan antara kualitas dan kuantitas amal usaha ini yang agaknya kini mendesak untuk kita lakukan.

Amal usaha pendidikan dapat memberikan harapan masa depan. Misalnya, amal usaha pendidikan itu menciptakan tersedianya ulama dan mubaligh yang memiliki ilmu pengetahuan yang cukup. Lewat pendidikan, terutama di perguruan tinggi yang dimiliki Muhammadiyah dengan fasilitas laboratorium dan perpustakaan yang tersedia dapat menjadi wahana pengembangan kemampuan intelektual maupun ketrampilan sosial. Apalagi Persyarikatan Muhammadiyah sejak lahir hingga sekarang tidak dapat dipisahkan dari pengaruh era kemajuan zaman, khususnya dalam bidang teknologi informatika.

Pimpinan Muhammadiyah dan juga para pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, untuk ini, harus banyak mengoleksi referensi buku-buku ilmu pengetahuan. Kemudian, membaca buku harus menjadi kebiasaan dan kebutuhan para pimpinan. Mulai sekarang pun harus sudah dimulai tradisi memberikan wakaf buku-buku bagi para alumnus Perguruan Tinggi Muhammadiyah, sebagai wujud rasa terima kasih kepada almamaternya.

Selama ini kita melihat bahwa, lemahnya kecenderungan minat baca masyarakat sudah menjadi fenomena yang memprihatinkan di kalangan umum pada masyarakat Indonesia. Bahkan sekarang ini sudah menjadi masalah nasional. Muhammadiyah, lewat majelis dan lembaga yang dimiliki berusaha untuk memperkuat minat baca masyarakat itu. Ini dapat menjadi bagian dari upaya untuk memperkuat watak masyarakat dan bangsa kita yang sekarang harus berhadapan dengan berbagai kecenderungan budaya global dan perubahan yang amat cepat.

Dengan demikian, alangkah baiknya budaya akademik dengan mengedepankan pentingnya laboratorium dan perpustakaan di PTM atau perguruan Muhammadiyah, dapat merembet kepada para pimpinan. Misalnya, dengan secara rutin para pimpinan persyarikatan dan pimpinan amal usaha mengunjungi perpustakaan untuk menambah wawasan mereka.
Selalu ada harapan besar bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah untuk berkembang. Buktinya, Perguruan Tinggi Muhammadyah memang selalu berkembang. Saya melihat bahwa sudah ada kegairahan yang terus muncul di kalangan amal usaha, terutama sekali terlihat di lembaga pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Amal usaha pendidikan dan pelayanan kesehatan dapat juga menjadi berkumpulnya orang-orang pintar dan terampil. Dan ini jelas menarik bagi mereka untuk datang dan bergabung dengan Persyarikatan Muhammadiyah. Tinggal bagaimana kita memenej mereka agar dapat memberikan manfaat dan faedah yang sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat dan kepentingan persyarikatan itu sendiri.

Terkadang saya juga melihat, wahana kesenian dapat mendekatkan kita kepada sang Khalik dan menjadi sarana dakwah yang efektif. Ini pun perlu dikembangkan di tubuh Muhammadiyah agar dakwah yang kita lakukan dapat lebih santun, indah, elegan dan efektif. Penciptaan simbol-simbol yang kaya makna dan kaya dengan spirit agama perlu senantiasa kita lakukan. Inilah pentingnya kesenian sebagai wahana dakwah menjadi sesuatu yang strategis. Lebih-lebih seperti yang saya sebut di atas, di zaman ini kita semua harus berhadapan dengan budaya global yang tidak seluruhnya positif.

Secara khusus saya juga tertarik dengan pentingnya pengembangan ilmu pengetahuan tertentu, yang ada kaitannya dengan kepentingan masyarakat tertentu. Untuk satu daerah dengan daerah lain, tentu ada karakter yang berbeda terhadap penekanannya.
Perguruan Tinggi Muhammadiyah pun, saya melihat menyimpan potensi peluang untuk mengembangkan organisasi persyarikatan. Pengajian-pengajian mulai dihidupkan kembali di perguruan tinggi Muhammadiyah. Ini dapat menjadi benteng tauhid yang semakin kuat. Banyak warga yang kemudian bangkit dan diharapkan dapat berjuang dan berkembang menjadi mubaligh Muhammadiyah. am

-----

Pernah Dimuat di Majalah Suara Muhammadiyah

Misi Muhammadiyah

Rosyad Sholeh

Setiap organisasi, termasuk Muhamma-diyah, tentu memiliki misi tertentu yang diembannya. Sejak sebuah organisasi didirikan, para pendirinya sudah merancangkan langkah-langkah strategis apa yang perlu dilakukan, agar cita-cita yang ingin dicapai dengan mendirikan organisasi itu bisa diwujudkan. Misi yang merupakan tugas utama organisasi yang sifatnya mendasar dan fundamental, mempunyai posisi dan peranan yang sangat penting dan strategis bagi sebuah organisasi. Di samping misi itu menjadi semacam “penuntun” bagi semua komponen organisasi kearah pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, ia juga menjadi pembeda antara organisasi yang satu dengan organisasi lainnya yang bergerak di bidang yang serupa. Dengan perkataan lain, misi membentuk organisasi memiliki ciri yang khas, yang membedakannya dari organisasi lainnya yang sejenis. Melihat pentingnya posisi dan peranan misi bagi setiap organisasi, maka seperti halnya tujuan organisasi, menjadi sebuah prinsip yang tidak bisa ditawar, bahwa misi organisasi itu harus dirumuskan dengan rumusan yang jelas. Dalam perumusan sebuah misi, menurut seorang pakar manajemen stratejik, yaitu Prof. DR. S.P. Siagian, MPA, ada beberapa ciri yang harus tergambar dalam misi itu, antara lain: pertama, ia merupakan suatu pernyataan yang bersifat umum dan berlaku untuk kurun waktu yang panjang tentang ‘niat’ organisasi yang bersangkutan; kedua, ia mencakup filsafat yang dianut dan akan digunakan oleh organisasi itu; ketiga, secara implisit menggambarkan citra yang hendak diproyeksikan ke masyarakat luas; keempat, ia merupakan pencerminan jati diri yang ingin diciptakan, ditumbuhkan dan dipelihara; kelima, menunjukkan produk apa yang menjadi andalan dari organisasi dan keenam, menggambarkan kebutuhan apa dari masyarakat yang akan diupayakan untuk dipuaskan oleh organisasi. Ada banyak manfaat yang dapat dipetik dengan adanya rumusan sebuah misi organisasi. Di antara manfaat itu adalah bahwa dengan rumusan yang tepat, membuat anggota organisasi punya persepsi yang sama tentang maksud keberadaan organisasi. Ini penting, karena kesamaan persepsi pada gilirannya akan menimbulkan kesamaan gerak dan tindakan dalam menunaikan kewajiban dan tanggung jawab masing-masing, di samping juga menjadi semacam pendorong bagi anggota untuk memberikan kontribusi yang optimal kepada organisasi. Adanya rumusan yang jelas juga memudahkan bagi perumusan langkah dan program organisasi serta penentuan tipe dan struktur organisasi, baik vertikal maupun horizontal.

Di samping itu adanya rumusan misi yang jelas juga memudahkan orang luar untuk memahami apa sesungguhnya yang akan diusahakan oleh organisasi, dan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang setuju untuk memberikan dukungan, bahkan keinginan untuk bergabung dengan organisasi tersebut. Memperhatikan demikian pentingnya peranan misi bagi sebuah organisasi, di samping mutlak perlunya rumusan yang jelas tentang misi tersebut, timbul pertanyaan, apakah dalam dokumen-dokumen resmi Persyarikatan sudah ada rumusan tentang misi Muhammadiyah itu? Kalau kita menelaah Anggaran Dasar Muhammadiyah, secara harfiah memang tidak ditemukan istilah misi.

Dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah, sejak Anggaran Dasar pertama sampai dengan Angaran Dasar keempatbelas, istilah yang digunakan -istilah mana semakna dengan istilah misi- adalah istilah maksud, kecuali Anggaran Dasar keempat dan kelima, yang menggunakan istilah hajat. Istilah misi kita jumpai pada tulisan para tokoh Muhammadiyah, terutama Ustadz H. Ahmad Azhar Basyir, MA Ketua PP Muhammadiyah periode 1990-1995, yang secara khusus pernah menulis tentang Misi Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam. Istilah misi dalam dokumen resmi, baru kita jumpai pada Keputusan Muktamar ke-44, khususnya pada Program Muhammadiyah Periode 2000-2005, yang secara eksplisit merumuskan visi dan misi Muhammadiyah. Pada dokumen-dokumen tersebut, misi Muhammadiyah itu berkisar pada tiga pokok substansi, yang oleh Ustadz Ahmad Azhar disebut sebagai tiga pola perjuangan Muhammadiyah, yang secara eksplisit dirumuskan sebagai berikut: 1. Menegakkan keyakinan tauhid yang murni, sesuai dengan ajaran Allah SwT yang dibawa oleh seluruh Rasul Allah, sejak Nabi Adam as. hingga Nabi Muhammad saw; 2. Menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an, Kitab Allah yang terakhir untuk umat manusia, dan Sunnah Rasul; 3. Mewujudkan amalan-amalan Islam dalam kehidupan peribadi, keluarga dan masyarakat. Kalau kita cermati secara saksama rumusan misi Muhammadiyah tersebut, agaknya telah memenuhi kriteria sebagaimana telah dikemukakan di atas. Tiga butir misi yang satu sama lain merupakan satu rangkaian kesatuan yang tidak terpisahkan itu kiranya telah memenuhi ciri-ciri yang diisyaratkan oleh Prof. Dr. S.P. Siagian serta telah berhasil membentuk jati diri Muhammadiyah yang khas, yang membedakan Muhammadiyah dengan organisasi Islam lainnya, yang sama-sama bergerak di bidang dakwah. Jati diri Muhammadiyah yang telah berhasil dibangun melalui misi tersebut, bahwa Muhammadiyah adalah sebuah organisasi gerakan yang senantiasa berjuang menyebarluaskan ajaran Islam, yang selalu berpegang teguh pada keyakinan tauhid yang murni serta berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.

Semua aktivitas Muhammadiyah yang memasuki seluruh aspek kehidupan pada hakekatnya merupakan perwujudan dari misi tersebut. Tidak ada aktivitas Muhammadiyah yang terlepas dari misi tersebut, apalagi sampai bertentangan dengan semangat dan jiwa yang terkandung di dalamnya. Bahkan tidak hanya itu. Misi Muhammadiyah tersebut tidak hanya menjadi ciri bagi Muhammadiyah secara kelembagaan, tetapi seharusnya juga menjadi ciri bagi setiap individu dalam Muhammadiyah. Ciri orang Muhammadiyah yang menonjol adalah bahwa dia memiliki keyakinan tauhid yang kokoh dan sangat peka terhadap paham, keyakinan, kepercayaan dan sebagainya yang berbau syirik, yang dapat merusak keyakinan tauhidnya. Di samping itu, orang Muhammadiyah adalah orang yang sangat giat berdakwah dan berusaha untuk mengamalkan ajaran Islam dalam keseharian hidupnya, tanpa bertanya apakah hukum amalan itu wajib, sunnah atau mubah. Semua amalan yang telah dituntunkan dan dicontohkan oleh Rasul Allah Muhammad saw, diusahakan untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah para aktivis dan pimpinan Muhammadiyah sudah seperti itu?

---------

Suara Muhammadiyah, April Minggu Kedua 2008

Organisasi itu Penting

HARI Kebangkitan Nasional yang di peringati tiap tahun, yang biasanya bertepatan pada tanggal 20 Mei. Karena itu, peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini tentu mempunyai arti khusus. Kebangkitan Nasional dimulai sejak Budi Utomo berdiri tanggal 20 Mei 1908. Sejak itu perjuangan pergerakan di negeri kita memasuki babak baru. Dikatakan sebagai babak baru, karena sejak itu perjuangan mulai menggunakan cara-cara organisasi modern. Perjuangan itu tentu merupakan kelanjutan dari perjuangan sebelumnya yang gagah berani, tapi belum berhasil, karena perjuangan masih bersifat kedaerahan.


Setelah Budi Utomo berdiri, KH. Ahmad Dahlan sering mengadakan kontak dan komunikasi dengan para tokohnya. Bahkan pernah bersilaturrahim ke rumah dr. Wahidin Sudirohusoso di Ketandan, Yogyakarta. Ia menanyakan berbagai hal tentang Budi Utomo dan tujuannya. Setelah mendengar jawaban yang memuaskan, ia menyatakan ingin menjadi anggota. Pengurus Budi Utomo kompak menyambut dan menerimanya. Malah ia diminta menjadi anggota pengurus Budi Utomo. Ia masuk Budi Utomo selain untuk memperluas pergaulan dan wawasan, juga mendapatkan manfaat dapat belajar berorganisasi dan dapat berdakwah kepada mereka. Dan perkenalannya dengan para tokoh Budi Utomo termasuk dengan Kepala Sekolah Kweekschool mengantarkannya dapat memberi pendidikan Agama Islam kepada para siswa Kweekschool.


KH. Ahmad Dahlan memelopori perjuangan menegakkan agama Islam di Indonesia dengan menggunakan organisasi sebagai alat, sarana, dan wadah perjuangan. Ia sadar bahwa perjuangan untuk mencapai cita-cita yang tinggi lagi mulia hanyalah akan efektif dan efisien apabila menggunakan alat, sarana, dan wadah perjuangan yang disebut organisasi. Ia sadar bahwa usaha perbaikan masyarakat tidak mudah jika dilakukan sendirian. Jadi, harus dilakukan dengan cara berorganisasi, membuka kerjasama dengan banyak orang. Empat tahun kemudian setelah Budi Utomo lahir, ia mendirikan organisasi atau persyarikatan yang diberi nama Muhammadiyah, tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H bertepatan tanggal 18 November 1912 M di Yogyakarta. Dengan nama itu, ia berharap agar siapa pun yang berada dalam Muhammadiyah menjadi pengikut baik Rasulullah Muhammad saw dan dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam sesuai dengan yang dituntunkan oleh beliau. Sebab beliau merupakan uswah hasanah bagi semua.


Ki Bagus Hadikusumo, salah seorang santri KH. Ahmad Dahlan, adalah penyusun Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM). MADM merupakan hasil refleksi, hasil dari penyorotan dan pengungkapan kembali terhadap pokok-pokok pikiran, ide, gagasan KH Ahmad Dahlan dalam menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam. MADM hakikatnya menggambarkan falsafah hidup dan falsafah perjuangan KH. Ahmad Dahlan yang di dalamnya menegaskan tentang dasar dan keyakinan hidup, tujuan dan cita-cita hidup, serta cara yang digunakan untuk mencapai tujuan hidup. Dalam MADM antara lain disebutkan bahwa perjuangan menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam hanyalah akan berhasil bila ittiba’ atau mengikuti jejak perjuangan para Nabi, terutama perjuangan Nabi Muhammad saw. (pokok pikiran ke-5).

Sedangkan pada pokok pikiran ke-6 ditegaskan, “Perjuangan mewujudkan pokok-pokok pikiran tersebut hanya dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan akan berhasil bila dengan cara berorganisasi”.
Mengapa organisasi penting? Karena dalam organisasi ada sekelompok orang yang bekerjasama, di dalamnya ada yang memimpin dan ada pula yang dipimpin, satu dengan yang lain saling berhubungan di samping ada pembagian kerja, ada keterikatan terhadap aturan dan tata tertib yang harus ditaati, kemudian berusaha bersama-sama dengan kesadaran dan bertanggungjawab untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama. Tidak demikian halnya jika tanpa organisasi. Tentu masing-masing jalan sendiri, tidak ada kerapian, ketertiban, dan keteraturan. Karena itu tidak ada yang tidak memerlukan organisasi. Organisasi diperlukan bagi kelompok orang yang berkehendak baik, juga bagi mereka yang berkehendak buruk. Dengan organisasi kehendak yang baik atau yang buruk akan mudah tercapai. Ada kaitan dengan pentingnya organisasi, Ali bin Abi Thalib pernah menegaskan, “Al-Haqqu bilaa nizhaam yaghlibuhul baathilu bi nizhaam” – “Kebenaran yang tidak terorganisasi akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi secara rapi”. Kata mutiara atau mutiara hikmah itu pantas kita renungkan.

Muhammadiyah adalah wadah bagi kelompok umat yang mendapat amanah Allah untuk senantiasa berdakwah dan beramar ma’ruf nahi munkar, menebarkan dan mempertahankan kebaikan, kedamaian, dan kebenaran dalam kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Semua itu dilakukan untuk membawa dan menjadi rahmatan lil ‘alamin. Agar sampai pada apa yang dimaksudkan maka kebenaran itu harus diamalkan dan diperjuangkan dalam tatanan yang rapi dan teratur, dengan perencanaan yang matang, dengan tahapan-tahapan pelaksanaan dan skala prioritas yang jelas, pimpinan yang amanah dan didukung oleh SDM berkualitas, serta pengorganisasian yang kuat.
Sekarang sedang terjadi perseteruan yang kuat antara kebenaran dan kebatilan. Muhammadiyah tentu tidak boleh tinggal diam.

Konsolidasi mutlak harus dilakukan agar Muhammadiyah sebagai organisasi tetap solid, baik ke dalam maupun ke luar. Sehingga Muhammadiyah tetap tegar tidak mudah goyah dan panik ketika berhadapan dengan berbagai kesulitan dan kesukaran. Di samping mampu berdiri tegak ketika berhadapan dengan pihak lain, juga memiliki kepercayaan diri dan harga diri sehingga tidak mudah diintervensi, dikendalikan, dan diobok-obok pihak lain. Tampilan Muhammadiyah sebagai organisasi tetap memiliki kewibawaan, disegani, dan dihormati.

Muhammadiyah sebagai organisasi memang bukan tujuan, tapi merupakan alat, sarana, dan wadah perjuangan yang sangat penting dan kita perlukan.

Pernah dimuat di Majalah Suara Muhammadiyah

Pusat Studi Falak


Alamat : http://www.ilmufalak.org

Pengelola : Majelis Tarjih PP Muhammadiyah & Univ. Muhammadiyah Yogyakarta

Alamat Kantor : Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Jl. Lingkar Selatan Tamantirto Kasihan Bantul Yogyakarta 55183 Telp. 0274-387656 ext. 154.

email : ilmufalak@yahoo.com

"Bermula dari kesadaran untuk mensosialisasikan, melestarikan serta mengembangkan FALAK, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mendirikan Pusat Studi Falak. Agenda utama lembaga tersebut adalah melakukan kaderisasi FALAK serta pengembangan FALAK yang dipadukan dengan khazanah pemikiran modern. Program utama Pusat Studi Falak adalah pendidikan, pelatihan, penelitian, serta publikasi."

Din: Sekali Muhammadiyah Tetap Muhammadiyah

Yogyakarta- Jabatan hanyalah titipan, tidak penting mengejar posisi di Muhammadiyah, yang penting adalah memberikan sumbangsih terbaik dengan segala jabatan dan posisinya di Muhammadiyah, karena sekali Muhammadiyah tetap Muhammadiyah

Demikian disampaikan ketua umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, dalam pidato Silaturahmi Keluarga Besar Muhammadiyah, di kantor PP Muhammadiyah Jln. Cik Di Tiro, Yogyakarta, Ahad pagi (20/09/2009) atau bertepatan dengan 1 Syawal 1430H. Menurut Din, hadirnya Muktamar Muhammadiyah 1 Abad pada 2010 mendatang, merupakan momen untuk mencari pemimpin baru, tetapi dalam perhelatan nanti, tidak perlu merisaukan siapa pengisi 13 personil Pimpinan Pusat Muhammadiyah, karena pada dasarnya seluruh kader Muhammadiyah, siap ditempatkan di mana saja, karena yang paling penting adalah, memberikan sumbangsihnya dan bukan apa yang didapat dari Muhammadiyah.

Dalam silaturahim terakhir periode PP Muhammadiyah 2005-2010 ini, hadir tiga penasehat PP, yang diantaranya, Asmuni Abdurrahman, Amien Rais, dan Syafi’I Ma’arif, dan hadir pula ketua PP Muhammadiyah, Malik Fajar, Haedar Nashir, Muchlas Abrar, Sekretaris Rosyad Sholeh, dan Bendahara Zamroni.Machhendra Setyo Atmaja