Selasa, 06 Oktober 2009

Letaknya Taqwa


Alloh SWT berfirman :

"Hai orang orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dengan sebenar benar taqwa kepadaNya, dan janganlah sekali kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam."

"Dan berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai berai dan ingatlah akan nikmat Alloh kepadamu ketika dahulu (masa jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Alloh menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Alloh orang orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Alloh menyelamatkan kamu daripadanya. Dengan demikian Alloh menerangkan ayat ayatNya kepadamu, agar kamu mendapatkan petunjuk."

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kepada yang mungkar, merekalah orang orang yang beruntung."

"Dan janganlah kamu menyerupai orang orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka itulah orang orang yang mendapat siksa yang berat. (QS. Ali Imraan : 102 - 105)

Taqwallah letaknya hanya di dalam dada, maksudnya dalam hati tiap tiap manusia, bukan didalam ucapan yang keluar dari bibir yang tidak bertulang, bukan pula dengan pernyataan tertulis dalam majalah dan koran, bukan dengan kata kata yang hanya kosong melompong, tidak pula dengan jalan didiktekan oleh yang menyumpah lalu ditirukan oleh yang disumpah sewaktu akan menerima suatu jabatan, tinggi ataupun rendah, atau hanya di gembar gemborkan lewat podium. Bukan disitu tempatnya, tetapi dalam perasaan yang tersimpan dalam hati, terpendam rapat, terkunci dalam dada. Tidak perlu dikeluarkan atau diiklankan, tidak usah dipertontonkan dan dipropagandakan bahwa dirinya adalah manusia bertaqwallah.

Manakala taqwallah itu sudah benar benar menghujam di dalam hati, menjelma menjadi satu dengan darah daging, maka pasti akan diletuskan, diledakkan dan didentumkan oleh perbuatan dan tindakan yang nyata, bukan karena pamer, bukan ingin dipuji dan disanjung, tetapi semata mata karena keikhlasan yang meluap luap dalam kalbu, sebab mengharapkan keridhaan Alloh SWT.

Tidak mungkin agama Islam menyebar ke seluruh penjuru alam, dikenal kawan dan lawan disegenap persada permukaan bumi ini, andaikata tanpa rasa taqwallah yang tertanam benar benar dalam dada dan hati setiap muslim sejak dari jaman Nabi Muhammad SAW, dan sahabat sahabat dahulu hingga sampai pada zaman kita sekarang ini. Mustahil sekali masjid masjid itu dapat berdiri dengan megahnya dmana mana, kalau bukan disebabkan letusan taqwallah.

Sebaliknya, jika taqwallah ini dibuat buat, diada adakan, tetapi hati sebenarnya tidak menerima, enggan menyambut kedatangannya dengan gembira, bahkan menolak. Ini tidak lain sebabnya hanyalah karena bukan taqwallah yang sebenar benarnya yang ada dalam kalbu, tetapi taqwallah yang hanya diucapkan dalam bibir dan dilafadzkan oleh lisan belaka. Malah taqwallah yang demikian akan menimbulkan kemungkaran dan kejahatan makin merajalela, bertambah luas penyebarannya.

Abu Hurairah ra. telah berkata: " Saya telah mendengar Rasululloh SAW. bersabda yang artinya :

"Tujuh macam orang yang akan dinaungi di bawah naunagn Alloh pada hari tiada naungan kecuali hanya naungan Alloh yaitu :

Imam (pemimpin) yang adil

Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Alloh

Dua orang saling cinta mencintai karena Alloh

Seorang laki laki yang dirayu oleh wanita cantik, lalu dia berkata: "Sesungguhnya aku takut kepada Alloh."

Seorang yang sedekah dengan tangan kanannya dan disembunyikan dari tangan kirinya.

Seorang yang hatinya selalu ada dimasjid (yang menjaga benar sholat jamaah)

Seorang yang ingat kepada Alloh sendirian tiba tiba mencucurkan airmata (yakni karena ingat dosanya dan takut kepada Alloh).' (HR. Bukhari dan Muslim).

Abdullah bin Amr.ra berkata: "Jika saya mencucurkan setetes air mata karena takut kepada Alloh, maka yang demikian itu lebih baik bagiku daripada sedekah seribu dinar."

Ka'ab Ahbar berkata: "Demi Alloh yang jiwaku berada ditanganNya, jika aku menangis karena takut kepada Alloh hinga mengalir air mata atas pipiku, niscaya lebih baik bagiku daripada sedekah satu gunung emas."

Auf bin Abdullah berkata : "Saya mendapat keterangan bahwa airmata yang bercucuran karena takut kepada ALloh itu tiada menyentuh bagian tubuh melainkan itu diharamkan dari api neraka."

Muhammad bin Al Mundzir jika menangis karena takut kepada Alloh, maka ia menghapuskan airmata itu ke muka dan jenggotnya lalu berkata: "saya mendapat keterangan, bahwa api neraka tidak akan menyentuh tempat yang disentuh oleh airmata itu."

Bila seseorang telah benar benar bertaqwa kepada Alloh, maka sampailah orang tersebut kepada derajat yang tertinggi, bahkan ketaqwaannya itu akan lebih sempurna jika disertai dengan sikap mental yang terpuji menurut pandangan Alloh, sehingga dalam kehidupan sehari hari dapat melakukan hal hal sebagai berikut :

Selalu menuju kepada ampunan Alloh dalam arti bekerja dalam hidup ini selalu hanya mengharap ridho Alloh, bukan yang dilarang dan dimurkai.

Sanggup menahan diri dari segala macam amarah, sebab manusia yang dapat menahan diri dari sikap dan perbuatan yang didorong oleh amarahnya, maka akan menjadi orang yang berjiwa besar, terhormat dan disegani.

Suka berbuat baik, pemaaf , jujur, tidak dendam, tidak dengki dan sebagainya. Sehingga bila terpeleset melakukan dosa dosa, meskipun itu dosa dosa kecil, maka ia cepat cepat bertaubat kepada Alloh dan kembali kepada yang benar. maksudnya yang benar dan diridhoi Alloh SWT.

Dari sinilah orang yang bertaqwa benar benar kehadirat Alloh tersebut berhak meraih derajat yang paling mulia dan tinggi disisi Alloh, sebagaimana yang dijelaskan dalam surah Al Hujurat ayat 13, yaitu :

"Sesungguhnya orang orang yang paling mulia dihadapan ALloh adalah orang orang yang taqwa diantara kamu."

Jika kita mau merenungkan firman Alloh tersebut, maka jelas dan nyata. Bahwa orang yang paling mulia disisi Alloh adalah orang yang paling banyak taqwanya, bukan orang yang berharta, bertahta, bukan orang yang hidupnya bebas karena terpenuhinya segala kebutuhan dan kepuasannya. Orang yang taqwa itulah orang yang benar benar sanggup membuktikan dirinya sebagai orang yang patuh melaksanakan perintah perintah Alloh dan yang disenangi Alloh dan menjauhi larangan laranganNya dan segala yang dibenci Alloh sehingga mulialah kita di hadapan Alloh.

Sifat taqwa itu boleh dimisalkan seperti sumber mata air, yang terus menerus memancarkan air yang jernih tidak kering kering sepanjang masa. Dapat di ambil faedahnya oleh manusia untuk keperluan diri sendiri, seperti untuk minum, membersihkan badan, pakaian dan lain lainnya, juga memberikan manfat kepada kehidupan makhluk yang lain di alam semesta, misalnya mengairi sawah, menyuburkan tanam tanaman, menggerakkan kekuatan listrik dsb.

Laksana air jernih yang berfungsi memberikan kenikmatan dan kebahagiaan kepada makhluk, zatnya sendiri bersih dan dapat pula membersihkan benda yang lain.

Walllahu'alam bish showab

Alhamdu lillaahi robbil 'aalamiin

(dari buku Manisnya Taqwa : Imam Al Ghazali)

Minggu, 04 Oktober 2009

Riwayat Prof. Dr. H.A. Syafii Ma’arif


Guru besar Ilmu Sejarah ini dilahirkan di Sumpurkudus, Sumatera Barat, 31 Mei 1935. Sejak kecil Syafii Maarif memang sudah bergumul dengan pengetahuan tentang agama Islam. Hal itu berkat pendidikan dari almarhurn orangtuanya, Makrifah, dan juga dipertajam dengan pendidikan yang dijalani kemudian, yang akhirnya membentuk dirinya hidup secara kental dalam tradisi Islam.

Setamat dari Sekolah Rakyat Ibtidaiyah di Sumpurkudus pada tahun 1947, ia melanjutkan studinya ke Madrasah Mu'allimin Lintau, Sumatera Barat. Pendidikannya di Madrasah Mu'allimin Lintau tersebut kemudian dilanjutkan ke Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah di Yogyakarta sampai tamat pada tahun 1956.

Melanjutkan ke perguruan tinggi bukanlah hal yang mudah bagi Syafii Maarif setelah menamatkan studinya dari Madrasah Mu'allimin Yogyakarta, karena setelah kedua orangtuanya meninggal dunia pembeayaan untuk melanjutkan studinya nyaris terputus. "Saya terdampar di pantai karena belas kasihan ombak," katanya suatu saat mengilustrasikan perjalanan hidupnya dalam sebuah wawancara dengan reporter Majalah KUNTUM. Berkat bantuan dari saudaranya, Syafii Maarif akhirnya bisa melanjutkan studi di Fakultas Hukum Universitas Cokroaminoto Surakarta.

Baru satu tahun kuliah, pemberontakan PRRI/Permesta meletus dan menyebabkan terputusnya jalur hubungan Sumatera-Jawa. Dengan demikian, bantuan biaya kuliah dari saudaranya terputus, sehingga ia memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Setelah putus kuliah, ia menyambung hidup sebagai guru desa di wilayah Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Motivasi belajar yang dimiliki Syafi'i Ma'arif memang sangat tinggi. Sambil bekerja ia kembali melanjutkan kuliah di Jurusan Sejarah, karena ia tidak mungkin lagi kembali ke Fakultas Hukum. Gelar Sarjana Muda berhasil diraihnya dari Universitas Cokroaminoto pada tahun 1964, dan gelar Sarjananya diperoleh dari IKIP Yogyakarta pada tahun 1968.

Kepakarannya di bidang sejarah semakin teruji, setelah ia memperoleh gelar Master pada Departemen Sejarah Ohio State Universitas, Ameria Serikat. "Pilihan yang tak sengaja itu ternyata telah menuntun saya menemukan hikmah kemanusiaan," kata Syafii Maarif dalam sebuah wawancara dengan wartawan KOMPAS. Baginya, sejarah berbicara tentang kemanusiaan secara totalitas. Ini meru­pakan studi yang sangat menarik ten­tang manusia yang memang unik. Gelar Doktoralnya di peroleh pada tahun 1993 dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, di Program Studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat.

"Sudah 25 tahun terakhir, perhatian terhadap sejarah, filsafat, dan agama melebihi perhatian saya terhadap cabang ilmu yang lain. Namun saya sadar sepenuhnya, bahwa semakin saya memasuki ketiga wilayah itu semakin tidak ada tepinya. Tidak jarang saya merasa sebagai orang asing di kawasan itu, kawasan yang seakan-akan tanpa batas. Terasalah kekecilan diri ini berhadapan dengan luas dan dalamnya lautan jelajah yang hendak dilayari." Kalimat yang rendah hati itu pernah diucapkannya pada pembuka Pidato Pengukuhan Guru Besarnya di IKIP Yogyakarta. "Rendah hati adalah refleksi dari iman," kata Syafii. "Orang semakin berisi biasanya semakin rendah hati. Bukan filsafat ilalang, semakin tinggi semakin liar tumbuhnya."

Syafii Maarif adalah figur ilmuwan yang selalu menempatkan kekuatan religi dalam setiap pergulatan dengan ilmunya. Ia sejarawan dan ahli filsafat, tetapi di tengah masyarakat (setidaknya masyarakat Yogyakarta) dia lebih dikenal sebagai seorang agamawan. "Tidaklah kamu diberi ilmu, kecuali sedikit saja," kata Syafii Maarif mengutip sebuah ayat suci Al Quran. Ini adalah nasehat untuk meredam ambisi dan rasa ingin tahu manusia untuk tidak melangkahi kawasan luar batas kemampuan manusia. Dalam pengertian itulah, maka ia yakin bahwa dalam setiap ilmu pengetahuan ada tanda-tanda keberadaan Tuhan. "Kita harus percaya pada realitas yang ada di luar jangkauan manusia," demikian ia menekankan. Alam semesta dan seluruh muatannya tidak bisa menjelaskan dirinya. Ia diam seribu bahasa mengenai asal-usul kejadian dan keberadaannya.

Hanya wahyu yang kemudian menolong otak manusia dan persepsinya guna memahami semua fenomena itu. Hanya lewat agama, manusia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang tujuan eksistensi manusia dan tentang makna kematian. Filsafat, apalagi sejarah, tidak mampu melakukannya.

Membaca buku adalah kesibukan harian yang dilakukan Syafi'i Ma'arif, selain menjalankan aktivitasnya sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, anggota Dewan Pertimbangan Agung, dan staf pengajar di IKIP Yogyakarta. Tidak heran kalau dia fasih menyitir ungkapan yang berharga dari kalangan ilmuwan, dan juga kaya dengan ungkapan-ungkapan puitis yang bermakna cukup mendalam.

Keterlibatannya sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah merupakan sebuah keharusan sejarah. Ketika reformasi di Indonesia sedang bergulir, Amien Rais yang saat itu menjabat sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah harus banyak melibatkan diri dalam aktivitas politik di negeri ini untuk menjadi salah satu lokomotif pergerakan dalam menarik gerbong reformasi di Indonesia.

Muhammadiyah harus diselamatkan agar tidak terbawa oleh kepentingan-kepentingan jangka pendek. Pada saat itulah, ketika Muhammadiyah harus merelakan Amien Rais untuk menjadi pemimpin bangsa, maka Syafi'i Ma'arif menggantikannya sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sebagai salah seorang Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ia terpilih dan dikukuhkan sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Sidang Pleno Diperluas yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ia harus melanjutkan tongkat kepemimpinan Muhammadiyah sampai Muktamar Muhammadiyah ke-44 tahun 2000 di Jakarta.

Pada Muktamar ke-44 tahun 2000 ia dipilih kembali menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk periode masa jabatan 2000-2005. Setelah Muktamar ke-45 di Malang, jabatan Ketua PP Muhammadiyah berganti sebutan menjadi Ketua Umum. Pada muktamar tersebut terpilih Prof. Dr. Din Syamsuddin menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah, sedangkan Prof. Dr. A. Syafi'i Ma'arif menjadi Penasehat PP Muhammadiyah bersama Prof. Amien Rais, Prof. Drs. H. Asjmuni Abdurrahman,Prof. Dr. H. Ismail Sunny, S.H., MCL. dan Ustadz K. H Abdur Rahim Noor. M.A.